![]() |
| Sumber: google.com |
Untuk mencegah terjadinya kasus penggelapan uang Bank di BNI Ambon, Bank Negara Indonesia (BNI) akan mengambil sejumlah langkah agar tak terulang lagi. Salah satunya dengan cara meminimalisir keterlibatan manusia dalam mengurus uang yang disimpan di bank baik itu kas maupun nasabah.
“Pada prinsipnya kami akan lebih dominan untuk mengurangi
unsur peran manusia. Mungkin lebih banyak peran IT,” ucap Direktur Bisnis
Korporasi BNI Ambon.
Putrama mengatakan pada kasus Ambon yang terjadi, pelaku
melakukan penggelapan senilai Rp58 miliar hanya dalam kurun waktu 1 bulan
sebelum akhirnya tim BNI berhasil mengecek adanya keanehan dari cabang di BNI Ambon. Belajar dari masalah ini, ia menyebutkan perlu ada pencegahan yang saat
ini melalui sistem berlapis masih perlu ditingkatkan.
“Kalau udah ada sistem berlapis dan aturan main, tapi satu
lini sudah kompromi susah ya. Jadi perbaikan itu mengurangi, meminimalisir
keterlibatan manusia dalam proses,” ucap Putrama.
Saat ditanya mengenai keterlibatan pejabat tinggi di cabang BNI Ambon, Putrama belum mau berkomentar. Ia hanya memastikan bahwa setiap personel
yang terlibat telah dilaporkan kepada polisi dan diganti untuk menjaga
operasional bank berjalan.
“Untuk personel langsung ada penggantian. Jadi untuk menjamin
berlangsung aktivitas operasional di cabang, oknum yang diduga terlibat dicopot
dari jabatannya dan digantikan oleh pegawai lain,” ucap Putrama.
Putrama memastikan dana nasabah di cabang Ambon yang dihimpun
oleh bank plat merah itu berada dalam keadaan aman terutama nominal
simpanannya. Sebaliknya, penggelapan uang terjadi pada kas cabang-cabang yang
disasar oleh pelaku untuk wilayah operasional Ambon.
Ia menyatakan sampai saat ini BNI masih berupaya melakukan
pelacakan mengenai dana itu untuk dikembalikan. Mengenai prosesnya, ia
menyatakan hal itu menjadi ranah kepolisian.
“Untuk recovery-nya tentu kami sangat berharap dari hasil
pelacakan aset yang dilakukan penegak hukum itu salah satu sumber dari recovery
untuk mengembalikan dana Rp58,9 miliar itu. Nanti ditelusuri,” ucap Putrama.
Sumber: Tirto.id

Komentar
Posting Komentar